Minggu, 21 Agustus 2016

Sepenggal Kisah Pembawa Perubahan



            Ikhwah Rasul, suatu rumah kos yang berbeda dari kos lain pada umumnya, yang penghuninya adalah kebanyakan orang-orang yang ‘alim. Itulah rata-rata pendapat dari orang-orang yang pernah berdiskusi dengan saya diluar seputar masalah mata kuliah. Dari beberapa orang tersebut yang pernah berbicara tentang Ikhwah Rasul dengan saya, saya menemukan suatu ekspresi yang saya pun ragu, ekspresi apakah itu. Suatu ekspresi yang menurut saya bukanlah basa-basi belaka dan bisa saya tafsirkan adalah ekspresi antara tertarik dan ngeri. Tertarik dengan Ikhwah Rasul, dengan apa saja keseharian kegiatan yang dilakukan di Ikhwah Rasul. Ngeri, mungkin karena adanya peraturan-peraturan yang memberatkan mereka, tidak sesuai dengan keinginan mereka, dan membuat mereka seakan-akan seperti terkekang.  
            Perlahan-lahan saya menjelaskan kepada mereka tentang apa Ikhwah Rasul itu sebenarnya. Membuka pemahaman baru tentang Ikhwah Rasul. Sampai pada suatu saat dimana saya bisa mengajak mereka untuk bisa merasakan bagaimana Ikhwah Rasul itu sebenarnya.
            Merupakan suatu kesenangan tersendiri ketika bisa mengajak kawan untuk bisa ikut merasakan damai serta nyamannya suasana Ikhwah Rasul. Suasana yang tidak akan kita jumpai di kos-kos lain dan hanya bisa kita temui disini, di kos Ikhwah Rasul.
            Ada satu kata atau lebih tepatnya kalimat yang sering diucapkan oleh banyak orang, yang sampai sekarang masih saya ingat. “Tidak enak kalau masuk surga sendirian. Ajaklah teman-temanmu agar bisa merasakan indahnya surga bersama”.
            Memang bukanlah menjadi jaminan, dengan Ikhwah Rasul kita bisa mendapatkan surga. Tapi disinilah tempat untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas keimanan kita sehingga pada saatnya, kita pantas untuk mendapatkan surga itu.
            Ikhwah Rasul menurut saya sendiri adalah suatu gerbang yang mengantarkan saya untuk menuju ke dunia “hijrah”. Yang awal mulanya, suatu kebetulan lah yang mengantarkan saya ke Ikhwah Rasul. Bertemu dengan kakak tingkat sewaktu SMA, yang ketika di SMA pun saya tidak mengenalnya namun, disini bisa menjadi dekat. Hingga suatu ketika, saya bisa masuk dan menetap di kos Ikhwah Rasul zona FMIPA. Walau berbeda zona, namun ini tidak mengurangi semangat saya untuk terus menimba ilmu. Perbedaan-perbedaan yang terjadi karena perbedaan fakultas pun tidak membebani saya untuk tetap membaur dengan penghuni-penghuni kos yang lain. Kedisiplinan-kedisiplinan yang diterapkan oleh anak-anak FMIPA ini pun, sedikit demi sedikit menular kepada saya. Peraturan-peraturan yang tidak sedikit itupun seakan tidak membuat saya merasa berat. Saya merasa, memang sudah sepatutnya peraturan tersebut diadakan. Tidak ada masalah bagi saya, saya begitu menikmati suasana kos pada saat itu.
            Sama sekali saya tidak merasakan suatu penyesalan karena telah menetapkan pilihan saya ke kos Ikhwah Rasul ini. Justru, saya merasa sangat bersyukur atas takdir yang begitu indah yang diberikan oleh Allah kepada saya.
            Jika pada waktu itu saya tetap pada keputusan saya untuk kuliah di bidang kesehatan diluar Semarang ataupun saya kuliah di PTN lain selain UNNES, mungkin saya tidak akan seperti ini. Bukan saya bersu’udzon, hanya saja saya memiliki keyakinan bahwa jika tidak disini, di Ikhwah Rasul ini, sangat kecil kemungkinan untuk saya bisa berhijrah, bisa mengerti tentang agama yang sebelumnya tidak saya mengerti, bisa membuat saya sedikit demi sedikit untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
            Disinilah tempat saya bisa memperkuat keyakinan saya kepada agama Islam. Disinilah tempat saya mempelajari kembali tentang Islam secara utuh. Disini pula tempat saya bisa mengerti tentang arti dakwah yang sesungguhnya. Dakwah yang merupakan kewajiban bagi setiap manusia.
            Syukur alhamdulillah atas segala nikmat yang telah diberikan oleh-Nya kepada saya. Rasanya tidak akan cukup waktu satu hari untuk menyebutkan satu persatu nikmat-Nya tersebut. Dari yang awalnya dekat dengan maksiat, sekarang secara perlahan bisa menjauhi maksiat. Dari yang awalnya ibarat kata hanya sebatas Islam KTP, sekarang bisa mengenal Islam yang sesungguhnya.
            Perubahan itu tidaklah didapatkan secara spontan, melainkan dengan proses dan dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk merubah kebiasaaan buruk dan bahkan pemikiran tidak baik yang telah lama mengakar dalam diri ini. Tidak bisa dipungkiri, pada saat saat awal, rasa berat itu masih sangat jelas bisa saya rasakan. Dalam diri ini seakan ada suatu gaya tarik menarik antara pemikiran/logika dengan hati nurani, dan pemikiran itu masih sangat mendominasi dalam diri ini. Saat itu, sangatlah berat untuk melakukan hal-hal yang tertulis dalam Al-Qur’an dan Hadits serta diajarkan oleh Rasulullah. Kebiasaan-kebiasaan yang kurang baiklah yang membuat saya berat untuk melaksanakan perintah-Nya.
            “Bisa karena terbiasa”. Bisa melakukan maksiat karena terbiasa melakukannya. Yah...terbiasa melakukan itu. Walau menurut saya maksiat itu bukanlah maksiat yang besar namun, yang namanya maksiat tetaplah maksiat, entah sekecil apapun itu. Maka, sebisa mungkin saya menerapkan kebiasaan-kebiasaan baik itu. yang awalnya karena paksaan, lama-lama menjadi suatu kesadaran, sehingga tidak ada lagi anggapan bahwa  itu paksaan. Sebagai contoh yaitu sholat awal waktu. Dulu ketika di rumah, jarang sekali melakukan sholat di awal waktu, hanya pada saat maghrib dan terkadang ‘isya saja. Namun, disini ada mba-mba yang selalu mengajak kita untuk salat awal waktu sehingga lama kelamaan saya menjadi terbiasa dengan salat di awal waktu. Ketika salat subuh pun begitu. Dari yang awalnya saya selalu telat bangun subuh, hingga perlahan-lahan mulai bisa bangun ketika adzan berkumandang. Dengan sabar dan berhati-hati, mba kos yang terlebih dahulu bangun kemudian membangunkan saya dan teman-teman yang lain satu persatu. Sambil mengetuk pintu, mba kos memanggil nama saya untuk segera beranjak bangun, “dek Riri, bangun yuk, udah subuh dek”. “iya mba”, jawab saya singkat yang menandakan saya telah bangun. Kemudian, setelah itu mengambil wudlu, salat subuh berjamaah dan dilanjutkan dengan membaca al-ma’tsurot bersama-sama.
            Proses untuk menuju kebiasaan tersebut memang tidak akan berhasil dalam waktu yang sebentar. Setelah hampir 3 tahun saya bersama dengan Ikhwah Rasul, kebiasaan-kebiasaan itu mulai muncul dengan sendirinya. Mungkin ini juga karena lingkungan yang menjadi faktor pendukungnya. Lingkungan dengan orang yang insyaAllah mempunyai tujuan yang sama yaitu memperoleh Jannah-Nya. Walau belum sepenuhnya 100% kebiasaan-kebiasaan buruk itu hilang namun, yang saya tahu, saya mempunyai keinginan untuk memperbaiki diri dan semoga dengan lingkungan yang baik ini, saya bisa menjadi seseorang yang lebih baik serta bisa menjadi panutan bagi orang lain.
            Saya sangat beruntung bisa berada di lingkungan yang baik seperti ini. Saya bisa mengenal orang-orang yang dapat menuntun saya untuk lebih dekat dengan-Nya. Jika ada yang kurang benar, maka masing-masing dari kami tak akan segan untuk saling mengingatkan. Karena pada dasarnya, manusia tidak bisa luput dari khilaf dan kesalahan, maka di saat-saat seperti itulah teman-teman yang memiliki kesepahaman dengan kitalah yang dapat mengingatkan. Jangan sampai disaat kita dalam kondisi futur, yang kita temui adalah orang yang salah, yang bukannya mendorong kita bangkit dari kefuturan malah membuat kita terperosok ke dalam jurang kefuturan yang lebih dalam, astaghfirullah...
            InsyaAllah teman-teman disini adalah teman yang benar-benar seperti saudara untuk kita, yang tidak akan menjerumuskan kita sebagai saudarinya ke jalan yang salah. Mereka juga bukan orang yang segan untuk berbagi ilmunya dengan saudari-saudarinya. Sama-sama belajar dan saling menguatkan, itulah kita.
            Terkadang saya berpikir, mungkin inilah jalan terbaik yang Allah pilihkan untuk saya. Ketika saya merasakan kecewa karena beranggapan bahwa jalan-Nya tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Ketika saya tidak bisa menggapai cita-cita yang sejak kecil saya inginkan. Mungkin inilah jawaban untuk semua yang saya rasakan. Karena pada saatnya, takdir Allah pastilah akan lebih indah dari apa yang kita harapkan.
            Allah telah memberikan saya kesempatan untuk memperbaiki diri. Salah satunya adalah dengan berada di jalan ini, bersama Ikhwah Rasul. Yang perlu saya lakukan adalah menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin, perbanyak menimba ilmu selagi masih dalam lingkungan atau zona nyaman ini. Karena, selepas dari tempat ini, pastilah nantinya rintangan yang akan kita lalui akan menjadi lebih berat. Disini, kita bisa merasa nyaman dengan segala fasilitas yang telah disediakan oleh Ikhwah Rasul untuk menambah pengetahuan serta pemahaman kita. Namun, setelah meninggalkan tempat ini, disanalah tempat kita sebenarnya. Tempat dimana kita harus berjuang dengan segala kemampuan, serta diluar zona nyaman kita. Kita akan berbagi dengan orang lain tentang segala yang sudah kita dapatkan disini, di kos Ikhwah Rasul ini.
            Jalan kita masih panjang, tapi jika kita tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya pada masa muda ini, maka bisa jadi kita akan menjadi orang yang merugi, karena orang yang beruntung adalah orang yang lebih baik dari hari kemarin. Jika kita salah dalam memilih jalan, maka itu akan berimbas pada masa depan kita. Jangan sampai kita terjerumus dalam kesesatan yang nyata karena kita salah dalam memilih jalan atau karena kita terlena dengan kenikmatan dunia.
            InsyaAllah keputusan untuk memilih jalan ini tidaklah salah. Semoga dengan berada di tempat ini, bisa membangun pondasi yang kuat untuk selanjutnya bisa membangun tiang sampai atap, hingga menjadi rumah yang akan menjadi bekal untuk  di surga kelak.
            Semoga bisa selalu diistiqomahkan di jalan ini, jalan yang akan selalu berjuang untuk mencari keridloan-Nya.
            Itulah sepotong kisah hidup yang saya alami bersama dengan Ikhwah Rasul. Kisah yang tak akan terlupa sepanjang hayat. Kisah yang mampu merubah masa depan saya dan membuat saya menjadi insan yang lebih baik.
            Terima Kasih telah membersamai saya hingga saat ini, Ikhwah Rasul. Terima kasih telah menjadi perantara perbaikan dalam hidup saya.


Jumat, 01 Juli 2016

FINAL EXAMINATION OF ICT - DIGITAL MAGAZINE

This is the link of our Digital Magazine https://joom.ag/dhlQ





Members of the group:
1. Riyan Riyanti 2201413163 (page 9-12)
2. Ida Rosida 2201413179 (page 1-8, 13-15)

Rabu, 08 Juni 2016

Indonesian English Translation

Translation Techniques
1.)    Amplification
       èIs a technique to introduce details that are not formulated in the ST: information, explicative paraphrasing. Footnotes are a type of amplification. Amplification is in opposition to reduction. For instance, when translating “Ramadan” from Arabic,  translate as “Ramadan, the Muslim month of fasting”.
The others examples:
No
Indonesian (SL)
English (TL)
1.
Jamu
Jamu, javanese medicine in form of solid thing.
2.
Pecel
Pecel, mix vegetables with peanut sauce.
3.
Rujak
Rujak, pound of mix vegetables with some ingredients.
4.
kebaya
Kebaya, tradition clothes from Java. It is worn by women in Indonesia and it is more accurately endemic to the Javanese peoples.
5.
Batik
Batik, special clothes from Indonesia


2.)    Transposition
èIs  a technique to change a grammatical category, e.g., noun for verb, preposition for verb, etc.

No
Indonesian (SL)
English (TL)
1.
 You should get the high score
Skor tinggi itu harus kamu dapatkan.
2.
Celana panjang
pants
3.
Kaca mata
glasses
4.
sepatu
shoes
5.
Saya tidak dapat memutuskan (V)
I have no decision(N)

3.)    Modulation
       è Is  a technique to change the point of view, focus or cognitive category in relation to the ST; it can be lexical or structural. Abstract for concrete, cause for effect, means for result, a part for the whole, subject for object, etc.

No
Indonesian (SL)
English (TL)
1.
Jariku teriris
I cut my finger
2.
Semua orang megenalnya.
Nobody doesn’t know him.
3.
Masalahnya sulit untuk dipecahkan
The solution is hard to find
4.
Saya selalu berdoa untukmu
I keep my finger cross for you
5.
Tidak bermakna
There is no meaning

4.)    Adaptation
       è Is  a technique to replace a ST cultural element with one from the target culture.

No
Indonesian (SL)
English (TL)
1.
seputih kapas
as white as snow
2.
futsal
Mini soccer
3.
kasti
baseball
4.
Tungkai kakinya seperti terpaku
His leg felt like a stone
5.
Aku akan meneleponmu nanti
I’ll give you a bell later


Selasa, 12 April 2016

Instructions with Technologies for Middle School Classrooms






            We all know  what technology is. As I have explained in my post before, technology is very beneficial. It has many functions and also purposes if we can used it appropriately.  What it will be going to is based on ourselves. If we can used it maximally, it will be helpful for us.
            We also know the impact caused by technology in education system. Because of the use of technology in education system, especially in schools, the process of learning can be more easier. We can see on a computer. Computer is one of the important thing that we need to improve our ability in education.  Nowadays, the form of computer has changed. It can be more easier to bring. teachers and students walking around with laptops or tablet PCs, and many people will have a mobile phone in their pocket that is capable of doing rather more than the mainframe computers.
            By using the technology, the process of education can be more effective and easier. The students may have better understanding if using technology in classroom activity than using manual activity. The students will be more interested in the technology that used in their classroom. Because of this interesting, the students will be easier to absorb the material of learning or  what their teacher said. It includes to the students of middle school that majority of them have high curiosity. Their curiosity will improve by using technology in classroom. It can make them more enthusiastic in learning.

Jumat, 08 April 2016

Online Social Media Applications for Language Teaching and Learning


     Nowadays is a technology era. Everyone knows and use many applications for many purposes. There are a lot of social media, such as Facebook, Messenger,  Twitter, Path, Instagram, Line, whatsApp and many more. Not only adult but also children may have these aplications.
        The development of social media affects the education world, especially in teaching and learning process. The way of teaching is not only by face-to-face activity but, it can be online activity. It can improve the ability and also the attitudes of the students. Students are learn to be more creative and interactive by doing this way. For example, if the teacher can not come to the class, the students are able to learn by themselves.
          According to TED-Ed Blog, there are 25 awesome social media applications that can improve teaching and learning process. All of those have different function. If the teacher can master all of those applications, I think the process of learning can be easier. Those applications are TED-Ed, Haikudeck, Duolingo, Draw and Tell, Animoto, iMovie, Instructables, Hopscotch, and Tinkercard that for teaching students how to present, create and code, Evernote, Explain Everything, Educreations, and Oxford Dictionaries that can be used for everyday classroom needs, and also For collaborating on school projects, Slack, Google Apps for Education, Schoology, Midmeister, and Wikispaces are useful social media application for students and teachers, Remind, Edublog, ClassDojo for comunicating with students, and then the last are Edmodo, Socrative, Moodle, and Google Forms for giving and receiving students feedback.
         One of the application that I have used is Edmodo. I have used this application since 2014 when I took listening subject. I think this application is very useful. As we know that the intensity of face-to-face activity in learning is not enough for us, so that we can use that application for learning by ourself. We can look at many materials that given by the teacher through Edmodo. It can be accessed by us easily. I think, it is also one of the effective way to improve our ability.


Senin, 28 Maret 2016

Blended Learning

         
         
             Blended learning is a method of learning that combine e-learning with face-to-face learning. This is the effective way to alternate face-to-face learning if it is difficult to be held because of time and place.
         This method is flexible because it is not limited with time and place and not focused just on face-to-face learning. If face-to-face learning can not be held, the students can access the information from their teacher on internet.
          Both the students and the teacher can get many benefits through this method. Blended learning can make the easier way to learn by the students and also allows the students to get the better need. They are more engaged using online content than paper-and-pencil worksheet, they can get real time feedback, they can know where they stand so that they can control how fast or slow they need to go through the class. In addition, students can accelerate specific skill and have more attempts to have more interaction with teachers. The teachers can accommodate various kind of learning style and they can providing the students more time for reflection. They feel easier to plan the instruction, easier classroom management, and they found that teaching small group is more rewarding since students are more engaged. So, the teacher and their students can evaluate the process in learning.
This below are the models of Blended Learning:
·      Face-to-Face Driver
Face-to-face teachers deliver most of the curriculum. A physical teacher employs online learning in a technology lab or the back of the classroom to supplement.
·      Rotation
Within a given course, students rotate on a fixed schedule between self-paced online learning and sitting in a classroom with a face-to-face teacher.
·      Flex
An online platform delivers most of the curriculum. Teachers provide on-site, as-needed support through in-person tutoring or small group sessions.
·      Online Lab
An online platform delivers the entire course, but in a brick-and-mortar location often students who participate in an online lab program also take traditional courses.
·      Self-Blend
Students choose to take remote online courses to supplement their school’s traditional curriculum. This model of blended learning is extremely popular among high school students.
·      Online Driver
An online platform and teacher deliver all the curriculum. Students work remotely and face-to-face check-ins are either available or mandatory.
            In my opinion, this is good method to applied in Indonesian School because the students not only get the input for one side but also from another side such as Internet.


Senin, 21 Maret 2016

ICT Assignment

                                     Global Education Network

            Nowadays in globalization era, everything has connected globally. Wherever and whenever we are, we can get many information from global by technology. And it is more efficient and effective way to do anything than to come to that place.
            Global technology is the effective way to improve our knowledge, skill, and many more. By this technology, we can search for everything we want. Not only the good one but also the bad one. Because in global technology there are both of them. We have to filter all that we absorb from it. It will be better to recognise the global technology to the students in the early age because in that age, they can easily absorb what they learn. If they learn through the global technology, they can get many information on it. They also will learn about the concepts of diversity, multiculturalism, and multilingualism. Which is can not be learn without interaction with different people and culture in the world.
            The contribution of technology in education system through global education system is very big. Technology has the power to breakdown geographical, economical, language, and time-zone barriers. Now, to improve the process of learning, the students have not to worry about the distance. Even if the distance is the far, the students can join the process of learning through the internet.
            Since we live in the globalization era, we have to develop cooperative relationships based on communications. Peer-to-Peer Video conferencing offers opportunities to increase communication skills and language learning. It  also creates the opportunity for students to build an international network of friends and contacts. A global contact network can be built if the students have the personal conversations with other students around the world.  That contact can be useful in their life. They can be found the job, develop their business, get knowledge of the other countries, and so on.