Ikhwah
Rasul, suatu rumah kos yang berbeda dari kos lain pada umumnya, yang
penghuninya adalah kebanyakan orang-orang yang ‘alim. Itulah rata-rata pendapat dari orang-orang yang pernah
berdiskusi dengan saya diluar seputar masalah mata kuliah. Dari beberapa orang
tersebut yang pernah berbicara tentang Ikhwah Rasul dengan saya, saya menemukan
suatu ekspresi yang saya pun ragu, ekspresi apakah itu. Suatu ekspresi yang
menurut saya bukanlah basa-basi belaka dan bisa saya tafsirkan adalah ekspresi antara
tertarik dan ngeri. Tertarik dengan
Ikhwah Rasul, dengan apa saja keseharian kegiatan yang dilakukan di Ikhwah
Rasul. Ngeri, mungkin karena adanya peraturan-peraturan yang memberatkan
mereka, tidak sesuai dengan keinginan mereka, dan membuat mereka seakan-akan
seperti terkekang.
Perlahan-lahan
saya menjelaskan kepada mereka tentang apa Ikhwah Rasul itu sebenarnya. Membuka
pemahaman baru tentang Ikhwah Rasul. Sampai pada suatu saat dimana saya bisa
mengajak mereka untuk bisa merasakan bagaimana Ikhwah Rasul itu sebenarnya.
Merupakan
suatu kesenangan tersendiri ketika bisa mengajak kawan untuk bisa ikut
merasakan damai serta nyamannya suasana Ikhwah Rasul. Suasana yang tidak akan
kita jumpai di kos-kos lain dan hanya bisa kita temui disini, di kos Ikhwah
Rasul.
Ada satu
kata atau lebih tepatnya kalimat yang sering diucapkan oleh banyak orang, yang
sampai sekarang masih saya ingat. “Tidak enak kalau masuk surga sendirian. Ajaklah
teman-temanmu agar bisa merasakan indahnya surga bersama”.
Memang
bukanlah menjadi jaminan, dengan Ikhwah Rasul kita bisa mendapatkan surga. Tapi
disinilah tempat untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas keimanan kita
sehingga pada saatnya, kita pantas untuk mendapatkan surga itu.
Ikhwah Rasul menurut saya sendiri
adalah suatu gerbang yang mengantarkan saya untuk menuju ke dunia “hijrah”. Yang
awal mulanya, suatu kebetulan lah yang mengantarkan saya ke Ikhwah Rasul.
Bertemu dengan kakak tingkat sewaktu SMA, yang ketika di SMA pun saya tidak
mengenalnya namun, disini bisa menjadi dekat. Hingga suatu ketika, saya bisa
masuk dan menetap di kos Ikhwah Rasul zona FMIPA. Walau berbeda zona, namun ini
tidak mengurangi semangat saya untuk terus menimba ilmu. Perbedaan-perbedaan
yang terjadi karena perbedaan fakultas pun tidak membebani saya untuk tetap
membaur dengan penghuni-penghuni kos yang lain. Kedisiplinan-kedisiplinan yang
diterapkan oleh anak-anak FMIPA ini pun, sedikit demi sedikit menular kepada
saya. Peraturan-peraturan yang tidak sedikit itupun seakan tidak membuat saya
merasa berat. Saya merasa, memang sudah sepatutnya peraturan tersebut diadakan.
Tidak ada masalah bagi saya, saya begitu menikmati suasana kos pada saat itu.
Sama
sekali saya tidak merasakan suatu penyesalan karena telah menetapkan pilihan
saya ke kos Ikhwah Rasul ini. Justru, saya merasa sangat bersyukur atas takdir
yang begitu indah yang diberikan oleh Allah kepada saya.
Jika
pada waktu itu saya tetap pada keputusan saya untuk kuliah di bidang kesehatan
diluar Semarang ataupun saya kuliah di PTN lain selain UNNES, mungkin saya
tidak akan seperti ini. Bukan saya bersu’udzon,
hanya saja saya memiliki keyakinan bahwa jika tidak disini, di Ikhwah Rasul
ini, sangat kecil kemungkinan untuk saya bisa berhijrah, bisa mengerti tentang
agama yang sebelumnya tidak saya mengerti, bisa membuat saya sedikit demi
sedikit untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Disinilah
tempat saya bisa memperkuat keyakinan saya kepada agama Islam. Disinilah tempat
saya mempelajari kembali tentang Islam secara utuh. Disini pula tempat saya
bisa mengerti tentang arti dakwah yang sesungguhnya. Dakwah yang merupakan
kewajiban bagi setiap manusia.
Syukur alhamdulillah atas segala nikmat yang
telah diberikan oleh-Nya kepada saya. Rasanya tidak akan cukup waktu satu hari
untuk menyebutkan satu persatu nikmat-Nya tersebut. Dari yang awalnya dekat dengan
maksiat, sekarang secara perlahan bisa menjauhi maksiat. Dari yang awalnya
ibarat kata hanya sebatas Islam KTP, sekarang bisa mengenal Islam yang
sesungguhnya.
Perubahan
itu tidaklah didapatkan secara spontan, melainkan dengan proses dan dibutuhkan
waktu yang tidak sebentar untuk merubah kebiasaaan buruk dan bahkan pemikiran
tidak baik yang telah lama mengakar dalam diri ini. Tidak bisa dipungkiri, pada
saat saat awal, rasa berat itu masih sangat jelas bisa saya rasakan. Dalam diri
ini seakan ada suatu gaya tarik menarik antara pemikiran/logika dengan hati
nurani, dan pemikiran itu masih sangat mendominasi dalam diri ini. Saat itu,
sangatlah berat untuk melakukan hal-hal yang tertulis dalam Al-Qur’an dan
Hadits serta diajarkan oleh Rasulullah. Kebiasaan-kebiasaan yang kurang baiklah
yang membuat saya berat untuk melaksanakan perintah-Nya.
“Bisa
karena terbiasa”. Bisa melakukan maksiat karena terbiasa melakukannya.
Yah...terbiasa melakukan itu. Walau menurut saya maksiat itu bukanlah maksiat
yang besar namun, yang namanya maksiat tetaplah maksiat, entah sekecil apapun
itu. Maka, sebisa mungkin saya menerapkan kebiasaan-kebiasaan baik itu. yang
awalnya karena paksaan, lama-lama menjadi suatu kesadaran, sehingga tidak ada
lagi anggapan bahwa itu paksaan. Sebagai
contoh yaitu sholat awal waktu. Dulu ketika di rumah, jarang sekali melakukan
sholat di awal waktu, hanya pada saat maghrib dan terkadang ‘isya saja. Namun,
disini ada mba-mba yang selalu
mengajak kita untuk salat awal waktu sehingga lama kelamaan saya menjadi
terbiasa dengan salat di awal waktu. Ketika salat subuh pun begitu. Dari yang
awalnya saya selalu telat bangun subuh, hingga perlahan-lahan mulai bisa bangun
ketika adzan berkumandang. Dengan sabar dan berhati-hati, mba kos yang terlebih
dahulu bangun kemudian membangunkan saya dan teman-teman yang lain satu
persatu. Sambil mengetuk pintu, mba kos memanggil nama saya untuk segera beranjak
bangun, “dek Riri, bangun yuk, udah subuh dek”. “iya mba”, jawab saya singkat
yang menandakan saya telah bangun. Kemudian, setelah itu mengambil wudlu, salat
subuh berjamaah dan dilanjutkan dengan membaca al-ma’tsurot bersama-sama.
Proses
untuk menuju kebiasaan tersebut memang tidak akan berhasil dalam waktu yang
sebentar. Setelah hampir 3 tahun saya bersama dengan Ikhwah Rasul,
kebiasaan-kebiasaan itu mulai muncul dengan sendirinya. Mungkin ini juga karena
lingkungan yang menjadi faktor pendukungnya. Lingkungan dengan orang yang
insyaAllah mempunyai tujuan yang sama yaitu memperoleh Jannah-Nya. Walau belum
sepenuhnya 100% kebiasaan-kebiasaan buruk itu hilang namun, yang saya tahu,
saya mempunyai keinginan untuk memperbaiki diri dan semoga dengan lingkungan
yang baik ini, saya bisa menjadi seseorang yang lebih baik serta bisa menjadi
panutan bagi orang lain.
Saya
sangat beruntung bisa berada di lingkungan yang baik seperti ini. Saya bisa
mengenal orang-orang yang dapat menuntun saya untuk lebih dekat dengan-Nya.
Jika ada yang kurang benar, maka masing-masing dari kami tak akan segan untuk
saling mengingatkan. Karena pada dasarnya, manusia tidak bisa luput dari khilaf
dan kesalahan, maka di saat-saat seperti itulah teman-teman yang memiliki
kesepahaman dengan kitalah yang dapat mengingatkan. Jangan sampai disaat kita
dalam kondisi futur, yang kita temui
adalah orang yang salah, yang bukannya mendorong kita bangkit dari kefuturan
malah membuat kita terperosok ke dalam jurang kefuturan yang lebih dalam,
astaghfirullah...
InsyaAllah
teman-teman disini adalah teman yang benar-benar seperti saudara untuk kita,
yang tidak akan menjerumuskan kita sebagai saudarinya ke jalan yang salah. Mereka
juga bukan orang yang segan untuk berbagi ilmunya dengan saudari-saudarinya.
Sama-sama belajar dan saling menguatkan, itulah kita.
Terkadang
saya berpikir, mungkin inilah jalan terbaik yang Allah pilihkan untuk saya.
Ketika saya merasakan kecewa karena beranggapan bahwa jalan-Nya tidak sesuai
dengan apa yang saya harapkan. Ketika saya tidak bisa menggapai cita-cita yang
sejak kecil saya inginkan. Mungkin inilah jawaban untuk semua yang saya
rasakan. Karena pada saatnya, takdir Allah pastilah akan lebih indah dari apa
yang kita harapkan.
Allah
telah memberikan saya kesempatan untuk memperbaiki diri. Salah satunya adalah
dengan berada di jalan ini, bersama Ikhwah Rasul. Yang perlu saya lakukan
adalah menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin, perbanyak menimba ilmu selagi
masih dalam lingkungan atau zona nyaman ini. Karena, selepas dari tempat ini,
pastilah nantinya rintangan yang akan kita lalui akan menjadi lebih berat.
Disini, kita bisa merasa nyaman dengan segala fasilitas yang telah disediakan
oleh Ikhwah Rasul untuk menambah pengetahuan serta pemahaman kita. Namun,
setelah meninggalkan tempat ini, disanalah tempat kita sebenarnya. Tempat
dimana kita harus berjuang dengan segala kemampuan, serta diluar zona nyaman
kita. Kita akan berbagi dengan orang lain tentang segala yang sudah kita
dapatkan disini, di kos Ikhwah Rasul ini.
Jalan
kita masih panjang, tapi jika kita tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan
sebaik-baiknya pada masa muda ini, maka bisa jadi kita akan menjadi orang yang
merugi, karena orang yang beruntung adalah orang yang lebih baik dari hari kemarin.
Jika kita salah dalam memilih jalan, maka itu akan berimbas pada masa depan
kita. Jangan sampai kita terjerumus dalam kesesatan yang nyata karena kita
salah dalam memilih jalan atau karena kita terlena dengan kenikmatan dunia.
InsyaAllah
keputusan untuk memilih jalan ini tidaklah salah. Semoga dengan berada di
tempat ini, bisa membangun pondasi yang kuat untuk selanjutnya bisa membangun
tiang sampai atap, hingga menjadi rumah yang akan menjadi bekal untuk di surga kelak.
Semoga
bisa selalu diistiqomahkan di jalan ini, jalan yang akan selalu berjuang untuk
mencari keridloan-Nya.
Itulah
sepotong kisah hidup yang saya alami bersama dengan Ikhwah Rasul. Kisah yang
tak akan terlupa sepanjang hayat. Kisah yang mampu merubah masa depan saya dan
membuat saya menjadi insan yang lebih baik.
Terima
Kasih telah membersamai saya hingga saat ini, Ikhwah Rasul. Terima kasih telah
menjadi perantara perbaikan dalam hidup saya.

